Senin, 05 Desember 2011

TIM PERSIPURA JAYAPURA DIBAWAH TEKANAN POLITIK INDONESIA

   Kehidupan Masyarakat Papua semakin hari semakin gawat. Hidup dibawah Pelanggran HAM,Genosida,pambantaian,Pemerkosaan  berjalan terus sepanjang lima puluh tahun berlalu dan tetap saja masih ada  disebut ALIBI.
   Melihat buku sejarah Bangsa Papua Barat pada tanggal 1 - Desember 1961 telah merdeka secara seutuhnya dimata internasional atau terhadap bangsa - bangsa lain didunia. Pimpinan presiden Indonesia Ke- I Soeharto dengan memulai membangun politik lobi - lobi dengan Amerika untuk tujuan utamanya yaitu Ekonomi dan kekayaan  untuk aneksasi Negara Papua masuk kedalam Nkri melalui perang. Siklus politik indonesia dengan masyarakat Papua adalah sistim lobi - lobi maka Pepera 1969 tidak sah cacat Hukum referendum Papua hanya 1025 orang dibanding seluruh populasi masyarakat papua seluruhnya, saat penetapan Otonomi Khusus tahun 2000 mewakili Tim 100 orang asli Papua, dan UP4B pencetusnya adalah Negara Indonesia Itu sendiri .Dengan demikian melihat dengan kaca mata sendiri bahwa negara indonesia Gagal menangani masalah Papua.
     Bangsa Papua Barat aneksasi kedalam bingkai NKRI  dari tahun 1961 sampai tahun 2011 Pembantaian, Pemerkosaan,Pembunuhan, Genosida, pelanggaran HAM semakin tinggi dan berjalan. Perhitungan Angka Mortalitas masyarakat sipil Papua dari tahun 1961 sampai 2011 mencapai 5.800 juta jiwa tidak ada jejak melalui penembahkan - pemebahkan saat DOM, Pemerkosaan, Belok Kanan mengakibatkan AIDS,dll. Disini bukanlah untuk menuliskan tentang sejarah tetapi negara Indonesia tetap saja menginjak moralitas, harkat dan martabat manusia papua secara kemanusiaan yang tak beradab.
      Dengan ketidakadilan dan harkat martabat manusia dibantai melalui tuduhan - tuduhan senjata dan politik kini munculnya lagi harkat, martabat manusia Papua kembali diinjak - injak lagi melalui Sepak Bola. Satu bulan lalu 5 orang anak negeri Papua Barat bergabung SEA GAMES 2011 maka nama TIMNAS U23 indonesia tersebar didunia dimata PSSI tak ada nilainya. Tahun 2011 Nasionalisme anak negeri Papua tampil membela Timnas tak ada nilainya dibanding anak jawa yang tak pernah membawah nama inonesia mata di publik. Kita berbicara moralitas dan harkat dan martabat maka nilai - nilai kemanusiaan dan keadilan,kebenaran harus dipertegukan dalam Tubuh PSSI maupun dimanasaja kita tinggal danjuga tempat kerja.
Apakah PSSI sengaja tidak terlibatkan Persipura Jayapura Liga Champions Asia?
    Semakin hari masalah pembebasan pejuangan Papua semakin meningkat dan pelanggaran HAM Papua semakin meningkat pula negara Indonesia Krisis menangani Pelanggaran HAM akibat tekanan dari luar negeri. Negara indonesia menganggap bahwa tim sepak bola Persipura Jayapura adalah perlawanan dengan indonesia maka sengaja  Indonesia menjatuhkan kerediblitas,moralitas, harkat dan martabat  manusia Papua pada umumnya.
   Mengapa saya menulis artikel tentang Tim Sepak bola Persipura Jayapura di bawah tekanan politik indonesia beberapa sumber media masa menulis tentang pemain sepak bola diduga sekelompok perjuangan Papua Merdeka. Disini menegaskan kepada negara indonesia bahwa Merdeka adalah hak segala bangsa tidak memandang umur,jenis kelamin, golongan,pangkat tetapi jati diri dan harga diri sebagai sebuah bangsa yang mendiami di wilayah itu sendiri atau harga diri sebagai satu suku dan satu rumpun segala penindasan dihapuskan.
   Beberapa sumber media indonesia pemain Persipura Jayapura diklaim sebagai sekelompok Organisasi Papua Merdeka sebagai berikut : wawancara wartawan indonesia dengan Timotius Bonai yang disebut sebagai Tibo 
   Bagaimana Anda melihat kondisi sosial-politik di Papua?
    Kalau soal itu, saya tidak terlalu mengikuti. Saya juga
tidak terlalu memikirkan hal itu. Saya lebih banyak memikirkan soal bola, dan tidak banyak juga mengetahui soal itu. Saya sendiri juga ingin tetap fokus ke sepakbola.

Bagaimana tanggapan Anda soal Organisasi Papua Merdeka (OPM), tragedi Freeport dan lain-lain?
Saya tidak terlalu banyak tahu. Meski memang sering mencari informasi dan berita-berita terkait saudara-saudara saya di Papua. Saya dengar dari berita, saya dapat informasi dari media massa, lihat di tv, saya turut berduka cita terhadap meninggalnya saudara-saudara saya di sana. Saya hanya bisa mendoakan mereka.


Setujukah Anda jika Papua merdeka dan menjadi negara sendiri?
Hahahahaa.. Kalau saya, saya tidak bisa bicara soal Papua merdeka. Karena saya tidak mau ikut campur soal itu. Saya tidak mau banyak komentar soal itu. (Sambil tersenyum, Tibo meminta pertanyaan soal lain di luar OPM)

Sepak Bola dan Gerakan Separatis ( sumber : Kompasiana)
    Kisah Barcelona, yang menjadi senjata tiga juta penduduk Catalunya untuk menentang pemerintah Spanyol tentu bukan barang baru. Slogan “Catalonia is not Spain” melekat pada klub yang berdiri sejak 1899 ini.
     Barcelonistas kerap melantunkan nyanyian dengan bahasa Catalan. Isinya sudah tentu mencaci keganasan Kerajaan Spanyol di masa lampau. Bak sekelompok paduan suara, mereka rutin menyanyikannya di stadion Camp Nou .
     Tak terkecuali para pemain. Punggawa Barcelona di timnas Spanyol kerap mengidentifikasi diri sebagai Anti-Spanyol. Kejadian yang terjadi usai La Furia Roja memastikan diri sebagai juara dunia bisa jadi contoh. Kala itu, Xavi Hernandez dan Carles Puyol melakukan selebrasi juara dengan bendera Catalan.
Gerakan separatis lewat medium sepak bola juga terjadi di tanah air. Meski tak seekstrem orang Catalunya, warga Papua kerap kali menggunakan Persipura sebagai kampanye memerdekakan Papua. Atribut separatis ala Organisasi Papua Merdeka (OPM) dikenakan saat tim “Mutiara Hitam” bertanding.
Contohnya, pertandingan Persipura kontra Persik Kediri yang dilangsungkan di Stadion Manahan pada Januari 2008. Simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM) memamerkan tas dan mengibarkan bendera Bintang Kejora saat Persipura mencetak gol.
Nasionalisme Pemain Papua
  Kasus mangkirnya pemain Papua sering terjadi di tim nasional. Nama-nama beken seperti Oktovianus Maniani, Titus Bonai, dan Boaz Salossa pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan, yakni dicoret dari daftar p main timnas.
     Nasionalisme para pemain berdarah Papua pun kerap dipertanyakan publik. Lantas, apakah ada pengaruh gerakan separatis yang terjadi di Papua terhadap nasionalisme pemain-pemain Papua?
Ambil contoh Boaz Salossa. Kita bisa melihat haluan nasionalisme yang dianut lewat garis keturunannya. Pemain yang kerap disapa dengan sebutan Bochi ini merupakan anak dari bekas gubernur Papua, yakni JP Salossa.
     Sang ayah dikenal sebagai salah satu tokoh yang berhaluan nasionalis Papua. Ia termasuk dalam dalam tim 100 yang menghadap mantan Presiden BJ Habibie meminta Papua merdeka. Sepak terjangnya dimonitori intelijen dan sempat diberitakan mendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM).
     Tak heran, Boaz lebih mementingkan Persipura ketimbang panggilan negara. Layaknya kegagalan para elit untuk meyakinkan Papua sebagai bagian dari NKRI, PSSI pun gagal merebut hati para pemain Papua. Malah, Boaz sempat sakit hati lantaran biaya pengobatan cederanya yang didapat saat membela timnas justru ditanggung Persipura.
     Pemain Papua juga kerap dimarjinalkan saat bergabung dengan tim nasional. Ketiadaan zona nyaman bagi pemain Papua pernah diungkapkan Boaz Salossa saat absen di uji coba kontra Palestina Agustus lalu. “Ya, memang ada ketidaknyamanan, tapi itu sangat sedikit. Masih ada jarak antara pemain Papua dan luar Papua,” ujarnya.
      Sungguh ironis menilik kata-kata yang diucapkan Boaz tersebut. Seorang pemain yang cukup punya pengaruh dalam permainan timnas justru jadi kaum marjinal di luar lapangan. Dalam konteks faktual, darah Papua memang kerap mendapat stereotip negatif. Namun, rasisme warna kulit tak seharusnya menguak saat para pemain membela panji tim nasional.
      Belakangan ini, konflik di Papua terus bergejolak. Kejadian-kejadian di Papua jangan dilihat sebagai sebuah letupan sporadis atau asap yang tidak mungkin membakar belantara rimba bumi Papua. Letupan dan asap itu bak sebuah penyakit epidemi yang kalau sudah menyebar, sulit diobati.
Letupan dan asap itu bisa menjadi awal dari sejarah baru bumi Papua sekaligus lahirnya tim nasional Papua. Sudah sepantasnya pemerintah mengambil tindakan konkret.
      Bukan tak mungkin label “senjata dari sebuah bangsa tanpa negara” melekat pada Persipura. Kita tentu miris jika melihat para pemain Papua membentangkan bendera Bintang Kejora saat Timnas Indonesia meraih prestasi Internasional. Seolah, mereka ingin mengkampanyekan Papua Merdeka lewat medium sepak bola.
Bila sejarah Timor Leste berulang pada Papua, sepak bola adalah salah satu korban. Kerugian terbesar tentu dialami tim nasional. Pasalnya, Papua punya kontribusi besar terhadap sepak bola tanah air.
     Negara indonesia stop Imperialisme terhadap suku bangsa malanesia maka kembalikan harga diri identitas Negara Papua Barat yang manupulasi melalui pepera 69. Kebenaran sejarah akan membuktikan semuanya.
                                   
                                        " salam Juang saudaraku"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar