Kamis, 29 Mei 2014

LP Nutrisi "Mengamati Perbebedaan Dosis Pupuk Pada Tanaman Caisim dan Bayam




 Oleh : Marinus Gobai/A.1010577

BAB I 
PENDAHULUAN
1.1.  LATAR BELAKANG
      Urbanisasi penduduk pedesaan ke daerah perkotaan tidak dapat dihindari karena pesatnya pertumbuhan ekonomi di daerah perkotaan. Meningkatnya jumlah penduduk di daerah perkotaan membawa dampak terhadap peningkatan kebutuhan pangan, khususnya sayuran.
        Produksi sayuran Indonesia sampai tahun 2005 mencapai 9 101 987 ton dan tingkat konsumsi pada tahun 2005 sebesar 7 732 634.39 ton. Produksi kangkung Indonesia tahun 2005 adalah 229.99 ton (Direktorat Jendral Hortikultura, 2008). Produksi selada Indonesia tahun 2005 kurang dari 1000 ton produksi kubis dan crucifera lainnya (termasuk caisin dan pakcoi) pada tahun yang sama sebesar 1 290 000 ton (Food Agriculuture Organization, 2007). Komoditas tersebut merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat. Jika dikaitkan dengan ketahanan pangan Indonesia produksi beberapa sayuran tersebut belum dapat memenuhi permintaan dan konsumsi dalam negeri. Peningkatan produktivitas dengan kualitas yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan volume pemasaran bagi produk pertanian khususnya komoditi sayuran sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi sayuran, namun demikian masih belum dapat mengimbangi permintaan pasar. Keadaan ini dimungkinkan antara lain sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk, perbaikan pendapatan dan peningkatan kesadaran gizi masyarakat. Selain itu di kota-kota besar tumbuh permintaan pasar yang menghendaki komoditas sayuran dengan kualitas yang baik dan dengan berbagai jenis yang lebih beragam.
   Berbagai jenis komoditas sayuran diusahakan oleh petani di daerah pinggiran perkotaan dalam luas garapan yang sempit, seperti sawi (caisim), bayam, kangkung, terong, cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, kacang panjang dan sebagainya (Soethama et al., 1998). Umumnya dalam satu penguasaan lahan, diusahakan beraneka ragam komoditas sayuran dalam petakan yang berbeda, misalnya disamping diusahakan komoditas sayuran sawi hijau (caisim), ditanam juga bayam, kangkung, cabe, kacang panjang dan komoditas sayuran lainnya.
Tanaman Caisim sendiri merupakan jenis sayuran yang cukup popular di Indonesia. Dikenal  pula sebagai caisin, sawi hijau atau sawi bakso, sayuran ini mudah dibudidayakan dan dapat dimakan segar (biasanya dilayukan dengan air panas) atau diolah. Bagi  petani, masa panen yang singkat dan pasar yang terbuka luas merupakan daya  tarik untuk mengusahakan caisin. Daya tarik lainnya adalah dan mudah diusahakan. Konsumsi caisin diduga akan mengalami peningkatan sesuai  pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya daya beli masyarakat, kemudahan  tanaman ini diperoleh di pasar, dan peningkatan pengetahuan gizi masyarakat.  Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan teknologi budidaya yang sudah ada  agar hasilnya meningkat (Gopur, 2009). 
 
1.2. TUJUAN PRAKTIKUM
            Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk npk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sayuran caisin serta praktikan diharapkan dapat lebih memahami tujuan praktikum ini.

1.3. HIPOTESI
            Pemberian pupuk NPK pada taraf dosis yang berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif serta perbedaan hasil panen tanaman caisin dengan media pasir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.2. Botani dan Morfologi Sawi Hijau (Caisim)
            Menurut Anonim, 2008 b dan Rukmana, 199), klasifikasi tanaman caisim adalah sebagai berikut :
       Kingdom :  Plantae, Sub-kingdom :  Tracheobionta , Super-divisio : Spermathopyta, Divisio :  Magnoliophyta, Kelas :  Magnoliopsida, Sub-kelas : Dilleniidae, Ordo :  Capparales, Familia :  Brassicaceae, Genus :  Brassica, Spesies :  Brassica juncea (L.) Czern.
     Tanaman Caisim (Brassica juncea) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek dengan tinggi berkisar antara 20 cm - 40 cm atau lebih, bergantung pada tipe dan varietasnya. Tanaman caisim ada yang membentuk krop (kumpulan daun - daun yang saling merapat membentuk kepala) dan ada varietas yang tidak membentuk krop.Tinggi tanaman caisim daun berkisar antara 30 cm - 40 cm dan tinggi tanaman caisim kepala berkisar antara 20 cm - 30 cm. Secara morfologi, organ-organ penting yang terdapat pada tanaman caisim adalah sebagai berikut.
        Daun tanaman caisim memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam, bergantung  pada varietasnya. Misalnya, jenis caisim yang membentuk krop memiliki bentuk daun bulat  atau  atau  lonjong degan ukuran daun lebar atau besar, daunnya ada yang berwarna hijau tua,hijau terang,dan ada yang berwarna hijau agak gelap. Sedangkan jenis caisim yang tidak membentuk krop,daunnya berbentuk bulat panjang, berukuran besar, bagian tepi daun bergerigi (keriting), dan daunnya  ada yang berwarna hijau tua, hijau terang, dan merah. Daun caisim memiliki tangkai daun lebar  dan tulang-tulang daun menyiri.Tangkai daun bersifat kuat dan halus.Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan, serta memiliki rasa agak manis. Daun caisim umumnya memiliki ukuran  panjang  20 cm - 25 cm dan lebar 15 cm atau lebih. 
         Tanaman caisim memilik barang sejati. Pada tanaman caisim yang membentuk  krop, batangnya  pendek dan hampir tidak terlihat dan terletak pada bagian dasar yang berada di dalam tanah. Sedangkan caisim yang tidak membentuk krop (caisim daun dan caisim batang) memiliki batang yang lebih panjang dan terlihat. Batang bersifat  tegap, kokoh, dan  kuat  dengan  ukuran  diameter  berkisar  antara  5,6 cm- 7 cm (caisim batang),  2 cm - 3 cm (caisim daun), serta 2 cm - 3 cm (caisim kepala). Tanaman caisim memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar  serabut menempel pada  baying, tumbuh menyebar,  ke  semua  arah  pada  kedalaman  20cm - 50 cm atau lebih. Sedangkan akar tunggangnya tumbuh  lurus  ke pusat bumi. Perakaran tanaman caisim dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang  subur,  gembur,  mudah menyerap air, dan  kedalaman tanah (solum tanah) cukup dalam.
        Biji tanaman caisim berbentuk lonjong pipih, berbulu,agak keras, berwarna coklat, tua, serta berukuran sangat kecil, yaitu panjang 4 mm dan lebar 1mm. Biji caisim merupakan biji tertutup dan berkeping dua, dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman. Bunga  tanaman caisim berwarna kuning, tumbuh lebat  dalam satu rangkaian. Bunga memiliki tangkai  bunga  yang  panjang  sampai data mencapai  80 cm  atau lebih. Tanaman  caisim  yang  ditanam di daerah  yang  beriklim sedang  (subtropik) mudah atau cepat  berbuah.  Varietas – varietas caisim tersebut dibagi dalam empat kelompok,  Capitata, caisim kepala renyah (crisphead, iceberg) dan kepala mentega (butterhead). 
           Caisim  (Brassica juncea) memiliki  penampilan yang  menarik. Ada yang berwama hijau segar dan ada juga yang berwama merah. Selain sebagai sayuran, daun caisim yang agak keriting ini sering dijadikan penghias hidangan.

 1.2. Kandungan Gizi Sawi Hijau (Caisim)
       Tabel I : Kandungan gizi (flap 100 g bahan) Sawi Hijau( caisim ) adalah sebagai berikut:
No
Zat Gizi
Kandungan
Kalori 25 kal
1
Protein
1,2  g
2
Lemak
0,20 g
3
Karbohidrat
2,90 g
4
Vitamin B
10,04 mg
5
Zat Besi
0,50 mg
6
Vitamin A
162 mg
7
Vitamin C
8,00 mg
8
Calsium (Ca)
22,00 mg
9
Fosfor (P)
25 mg
10
Air
94,80 g

              Sumber : (Rusli Hukum dan Sri Kuntarsih, 1990).
2.3. Syarat Tumbuh
Caisim yang ditanam di dataran rendah cenderung lebih cepat berbunga dan berbiji. Suhu optimal bagi pertumbuhan  caisim ialah antara 15-25°C. Jenis tanah yang disukai caisim ialah lempung berdebu, lempung berpasir, dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun  demikian, caisim  masih  toleran terhadap tanah-tanah yang miskin hara asalkan diberi pengairan dan pupuk organik yang memadai. Sebaiknya  tanah  tersebut  bereaksi  netral.
2.4. PUPUK
       Pengertian pupuk secara umum adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan kedalam tanah atau tanaman, dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk di mana kandungan unsure hara  dalam pupuk majemuk dinyatakan dalam tiga angka yang berturut – turut menunjukkan kadar N, P2, O2, dan K2O. pupuk majemuk umumny di buat dalam bentuk butiran yang seragam sehingga memudahkan penaburan yang merata. Butir- butirnya umumnya agak keras dengan permukaan licin sehingga dapat mengurangi sifat menarik air  dari udar lembab.
       Zat-zat yang sangat diperlukan tanaman dan seringkali kurang cukup terdapat di dalam tanah, terutama Nitrogen (N), Phosfor (P), dan Kalium (K). Apabila unsur tersebut dapat terpenuhi, maka pertumbuhan tanaman akan menjadi normal dan baik. Sebaliknya, apabila kekurangan atau kelebihan akan menunjukkan gejala-gejala kekurangwajaran atau abormal (Rosmarkam dan Nasih, 2003).
       Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO-3) dan ion amonium (NH4+). Nitrogen tidak tersedia dalam bentuk mineral alami seperti unsur hara lainya. Terdapat didalam protein dalam bentuk tanaman yang berguna untuk pertumbuhan pucuk daun. Pupuk N juga menyuburkan bagian-bagian vegetatif tumbuhnya batang dan daun. Oleh karena itu, pupuk ini diberikan pada awal masa pertumbuhan dan diberikan pada sayuran daun sebab dengan pupuk N daunya lekas tumbuh besar dan berwarna hijau tua. Sumber N dari udara tidak semua tanaman dapat menghisapnya dari udara begitu saja. Tetapi dengan adanya bentuk bantuan bakteri tanah, maka zat N dapa dihisap oleh tanaman (Hasibuan, 2006). Kerugian pupuk N adalah pertumbuhan tanaman lambat, tanaman kerdil, daun tanaman kecil. Pada tanaman serealia, jumlah akar menjadi berkurang. Kerugian pupuk P adalah pertumbuhan terhambat, pembentukan buah biji terganggu, warna daun menjadi lebih tua. Kerugian pupuk K adalah kerusakan kleooplas, penurunan laju pertumbuhan tanaman terjadi korosis.
         Phosfor berperan penting didalam transfer energi didalam sel tanaman, misalnya ADP, ATP, berperan dalam pembentukan membran sel, sangat diperlukan untuk pembiakan generatif yakni pembentukan bunga serta bagian-bagianya. Selanjutnya menjadi buah dan bijinya, mendorong dan mningkatkan pembentukan buah, serta perangsang akar dapat memanjang dan kuat. Kadar zat P dalam pupuk dinyatakan dalam % P2O5 (Sutanto, 2004).
Kalium diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Tanah mengandung 400-500 kg kalium untuk setiap 93 m2. Kalium pada tanaman berperan sebagai efisiensi penggunaan air, untuk pertumbuhan zat tepung di dalam tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit, daun buah dan buah tidak mudah lepas dari tangkainya, lebih tahan terhadap penyakit dan memperluas pertumbuhan akar (Hasibuan, 2008).
Pengertian pupuk secara umum adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan kedalam tanah atau tanaman, dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman

BAB III 
METODELOGI
3.1.WAKTU DAN TEMPAT
            Praktikum ini dilaksanakan dari tanggal, 20 Maret 2013 sampai dengan tanggal, 24 April 2013, bertempat di ruang praktikum green house Universitas Djuanda Bogor.
3.2. BAHAN DAN ALAT
            Pada praktikum ini bahan yang digunakan adalah benih selada, benih bayam, benih kangkung, pupuk Urea, TSP, KCL, pupuk daun Gandasil D, Decis, pasir, dan polybag. Sedangkan Alat yang disediakan untuk praktikum ini adalah sprayer, penggaris, timbangan elektrik, dan Erlenmeyer.
3.3. PEUBAH YANG DI AMATI
            Peubah yang di amati dalam pelaksanaan praktikum ini di mulai dari pelaksanaan dan pertumbuhan tanaman yaitu pengukuran tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan pengamatan pasca panen dalam praktikum ini adalah pengukuran panjang tanaman dari ujung akar sampai ujung daun, panjag akar, panjang daun, berat brangkasan, berat batang dan berat akar.

3.4. METODELOGI PRAKTIKUM
            Metodelogi praktikum ini dilakukan secara sistematis dimana setiap tahapan yang direncanakan dilaksanakan setiap minggunya, tahapan tersebut meliputi:
  1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan dalam paraktikum ini adalah pasir, hal karna pasir lebih dianggap netral tanpa ada kandungan hara yang dibutuhkan tanaman dan ini juga didasarkan untuk lebih mengetahui efektifitas dari pengaruh pemberian pupuknya. Media tanam pasir ini di sediakan dalam polibag dengan ukran 25x25 cm serta jumlahnya disesuaikan dengan jumlah sampel yang telah ditentukan.
  1. Persiapan dan Penanaman Benih
Benih bayam dipilih yang memiliki kualitas cukup baik yaitu daya tumbuh  besar (lebih dari 90 %), tidak tercampur benih varietas lain, bebas hama dan penyakit, sehat dan mengkilap. Penanaman benih dilakukan secara langsung dari biji pada media tanam pasir, hal ini dilakukan agar lebih mempermudah dan tidak mengganggu pertumbuhan perakaran pada fase vegetatifnya. Pada penanaman benih tersebut ditambahkan puradan untuk mencegah  agar biji tidak dimakan serangga ataupun ulat
  1. Pemupukan
          Pemupukan dilakukan pada minggu ke dua setelah persiapan, pupuk yang diberikan adalah pupuk Urea (N), TSP (P) dan KCL (K). Dosis pemupukan yang diberikan adalah sesuai dengan setiap perlakuan yang dikehendaki, yaitu:
1.      Perlakuan A dosis N 0,1 gr/polybag dan dosis K 0,1 gr/polybag (N dan K)
2.      Perlakuan B dosis N 0,1 gr/polybag dan dosis P 0,2 gr/polybag (N dan P)
3.      Perlakuan C dosis P 0,2 gr/polybag dan dosis K 0,1 gr/polybag (P dan K)
4.      Perlakuan D dosis N 0,1 gr/polybar, P 0,2 gr/polybag, K 0,1 gr/polybag (lengkap N,P,K)
5.      Perlakuan E adalah perlakuan tanpa pemberian pupuk (minus pupuk)
            Pemupukan tersebut dilaksanakan pada minggu kedua praktikum bersamaan dengan penanaman benih selada, bayam dan kangkung secara langsung tanpa adanya persemaian. Pada minggu ke tiga atau 2 MST dilakukan pemupukan P dengan dosis 0,2 gr/polybag, serta pemberian pupuk daun yaitu Gandasil D dengan dosis 10 gr/10 lt air ke seluruh tanaman sampel. Semua pupuk yang diberikan terlebih dahulu di cairkan atau di campur air secara terpisah baru kemudian disiramkan (pupuk NPK), dan di semprotkan dengan sprayer (Gandasil D). 
  1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada minggu ke 2 mst, hal ini dilakuan untuk menganti tanaman yang tidak tumbuh atau mati dimakan serangga dan ulat penggerek batang. Tanaman sampel yang di amati hanya 5 batang tanaman per polybag.
  1. Pemeliharaan
a.    Penyiraman
Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Kemudian setelah pertumbuhan normal penyiraman dilakukan dua hari sekali, namaun dengan keadaan green house yang kurang memungkinkan dengan suhu yang diatas normalnya, maka perlu dilakukan penyiraman setiap hari samapai masa panen.
b.    Penyiangan
Penyiangan  perlu dilakukan sesering mungkin, agar tanaman bayam tidak terganggu gulma. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan/mencabuti tumbuhan (gulma) yang tumbuh disekitar tanaman sampel dalam polybag.
c.    Pemberantasan hama dan penyakit
         Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan secara  bertahap, yakni dengan menggunakan furadan sebagai pencegah terhadap hama ulat, serta menggunakan Insektisida Decis 25 EC, disemprotkan 1 minggu sekali atau disesuaikan dengan kondisi tanaman di lapangan. Pada praktikum ini penyemprotan dilakukan pada 2 mst karena tanamn terserang ulat pnggerek patang serta kepik hijau.
  1. Panen
Panen dilaksanakan pada minggu ke 4 mst, dimana pertumbuahn sudah optimal terlihat dari jumlah daun dan tinggi tanaman pada umumnya. Pada saat pemanenan faktor yang di amati atau pengukuran yang dilakukan adalah panjang tanamn, jumlah daun, bobot brangkas tanamn, bobot batang dan daun serta bobot akarnya.


BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN

Peranan dan pengaruh pemberian pupuk NPK dapat dilihat dalam hasil pengamatan melalui pengamatan pertumbuhan vegetatif meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan pengamatan pada pasca panennya yaitu pengamatan terhadap panjang tanaman, panjang akar, panjang batang, berat brangkasan, berat batang dan berat akar, pemberian pupuk majemuk terhadap pertumbuhan suatu tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik dan optimal sangatlah penting, selain unsur hara yang sudah tersedia dalam tanah tentunya harus ada perlakuan khusus, karena unsur hara mikro dan makro dalam tidak sepenuhnya tersedia secara keseluruhan dan dalam bentuk siap pakai, agar memperoleh hasil yang sesuai dengan yang di inginkan maka perlu dilakuakn pemeberian pupuk tersebut
Pemberian pupuk NPK yang kaya manfaat untuk pertumbuhan tanaman, dalam praktikum ini diberikan setelah dilakuakn pencairan dengan penambahan air, hal ini dimaksukan agar lebih mudah diserap oleh tanaman caisim. Berdasarkan pengamatan dilapangan di peroleh data sebagai berikut:

Tabel 1. Pengamatan Pertumbuhan Vegetatif
Perlakuan
tt/mst
jd/mst
2mst
3mst
2mst
3mst
A
6.1
10.8
4.4
6.4
B
23.9
32.8
4.1
6.0
C
6.6
11.7
4.0
4.9
D
8.2
15.0
3.9
6.7
E
12
20.5
3
4.05
Ket: tt: tinggi tanaman
       Jd: jumlah daun
       Mst: minggu setelah  tanam


Berdasarkan hasil pengamatan di tatas  kita dapat melihat perbedaan antara caisim yang di pupuk NPK secara lengkap, tidak lengkap bahkan yang tidak menggunakan pupuk sama sekali. Pada masa pertumbuhan vegetatif unsur hara tersebut sangatlah penting. Pada tanaman caisim dengan perlakuan B pertumbuhannya lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini karena pada fase vegetatif tanaman caisim lebih banyak membutuhkan unsure N dan p untuk pertumbuhan dan pemanjangan selnya.
Tabel 2. Pengamatan Pasca Panen Caisim
Perlakuan
pt(cm)
pb(cm)
pa(cm)
bb(gr)
b.bat(gr)
ba(gr)


A
30.0
20.7
9.3
7.3
5.4
1.9

B
82.0
28.3
13.8
21.7
17.2
4.6

C
37.5
26.5
10.8
24.3
20.7
4.7

D
45.6
30.5
13.1
18.9
14.9
4.0

E
65.9
9.8
11.6
12.0
9.0
2.9

   Ket:  pt: panjang tanaman    pa: panjang akar          b.bat: berat batang
            Pb: panjang batang      bb: bobot brangkas      ba: berat akar
            Cm: centi meter           gr: gram
            Setelah dilakukan pengamatan pada fase vegetatif dan sudah cukup untuk di panen, tanamn caisim yang dipanen menunjukan bahwa selain pengaruh pemberian pupuk NPK tetapi ada peranan juga dari pupuk daun gandasil D. Berdasarkan tabel di atas persentase yang dihasilkan lebih besar adalah perlakuan D, dimana dengan pemupukan lengkap serta penambahan pupuk daun pertumbuhannya lebih optimal namun tidak berbeda terlalu jauh dengan perlakuan B yang dalam proses awal pertumbuhan vegetatifnya lebih bagus.
Pengukuran pertumbuhan vegetatif pada 2 mst dan 3 mst untuk tinggi tanaman perlakuan yang lebih memberikan dampak positif adalah perlakuan E, dimana dengan pemberiaan pupuk yang lengkap pertumbuhannya lebih optimal, begitupun dari jumlah dan lebar daun terlihat perbedaannya, tanaman caisim yang kekurangan unsure N terlihat pada ujung-ujung daunya menguning dan kemudian mengering.
Pada masa pemanenan hasilnya menunjukan bahwa perlakuan yang lebih baik adalah perlakuan A, walaupun pada awalnya terlihat kurang baik dibandingkan yang lainya tetapi pada masa panen hasilnya lebih tinggi baik dari berat tanaman brangkasan maupun panjang tanamnnya. Pemberian pupuk daun terhadap caisim  dapat terlihat pengaruhnya karena caisim memiliki ketebalan kutikula lebih tebal.
Salah satu yang mengganggu pertumbuhan caisim tersebut adalah ketersediaan air karena praktikum tidak rajin untuk menyiram sedangkan media yang digunakan adalah pasir, kemampuan pasir untuk mengikat air sangat rendah sehingga begitu mudah air turun setelah disiram dan mengalir begitu saja ditambah lagi dengan keadaan suhu di green house yang sangat panas ketika siang hari.
         Pengaruh pemeberian pupuk secara lengkap terlihat juga pada perlakuan B dimana pemberian pupuk NPK lengkap. Perbedaanya sendiripun terlihat lebih nyata diabandingkan dengan perlakuan lainnya terutama pada perlakuan A yang sama sekali tidak mengguanakn pupuk. Salah satu akibat dari kurangnya pupuk pada pertumbuhan caisim ini adalah pupuk P di tunjukan dengan perubahan warna daun dan batang menjadi keunguan dan kurangnya pupuk N terlihat pada ujung daun yang menguning.
            Hal ini dilakukan agar lebih melihat pengaruh pemberian pupuk NPK dalam taraf dosis berbeda karena tanaman masih terlihat kecil.Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa perlakuan yang berdampak positif  adalah perlakuan B dengan pupuk lengkap. Dari data di atas tidak dapat dipastikan secara langsung mana yang lebih baik karena ada data yang kosong disebabkan praktikum lain yang tidak menyerahkan data.

BAB V 
KESIMPULAN
                   Dari pengamatan yang dilakukan dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa: Pemberian pupuk NPK dengan taraf dosis berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanamn caisin. Pemberian pupuk NPK terhadap tanaman caisim memiliki respon berbeda-beda. Respon yang baik dari pemberian pupuk NPK tersebut adalah perlakuan B diamana NPK lengkap dan ditambah dengan pemberian pupuk daun gandasil B. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanamn tersebut adalah ketersediaan air, media tanam yang tepat, serta kemampuan masing-masing tanaman untuk beradaptasi dengan keadaan lingkungan yang merugikan. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasialan praktikum ini adalah ketelatenan dan kerajian para praktikum untuk merawat dan memelihara tanaman yang sudah di tanam.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar