Minggu, 28 April 2013

Peningkata Penduduk Dampak Pada Ketahanan Pangan



         Pangan merupakan istilah yang amat penting bagi pertanian karena secara hakiki pangan merupakan sala – satu kebutuhan paling mendasar dalam pemenuhan aspirasi humanistik. Masalah konsumsi pangan dan pemenuhannya akan tetap merupakan agenda penting dalam pembangunan ekonomi di suatu Negara.  Status konsumsi pangan penduduk sering dipakai sebagai sala-satu indicator tingkat kesejateraan masyarakat. Krisis penyediaan pangan akan menjadi masalah yang sangat sensitif dalam dinamika kehidupan sosial–politik. Oleh karena itu, mendiskusikan topik ketahan pangan menjadi sangat penting.

        Ketahanan pangan bagi suatu negara merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat banyak seperti Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 220 juta jiwa pada tahun 2020 dan diproyekasikan 270 juta jiwa pada tahun 2020. Pengalaman sejarah pembangunan Indonesia menunjukan bahwa masalah ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan stabilitas ekonomi  (khusunya inflasi), biaya produksi ekonomi agregat (biaya hidup), dan stabilitas politik nasional. Oleh karena itu, ketahanan pangan menjadi syarat mutlak bagi penyelenggaraan pembangunan nasional.

     Peningkatan jumlah penduduk juga merupakan sala–satu faktor ketidaksetaraan pangannya untuk mencukupi kebutuhan penduduknya. Kasus seperti di Indonesia, semakin hari semakin meningkat jumlah penduduk merupakan kasus yang sangat serius untuk menaangani masalah pangannya. Namun demikian kemerosotan kekayaan alam seperti lahan pertanian akibat alifungsikan menjadikan perumahan. Terjadilah ketergantungan pangan terhadap negara-negara lain.

    Akankah ketergantungan pangan/ imfor  pangan menjamin ketahanan pangan?. Pembangunan nasional “pangan” pemerintah pusat telah membangun pengalihan lahan pertanian di lokasi baru seperti Merauke, Papua, menjamin kasus kelaparan disana. Tak ada tanda–tanda untuk menjamin kasus kelaparan menyebabkan kematian ini. Padahal konsep ketahanan pangan mencakup ketersediaan yang memadai mengandung arti bahwa secara rata- rata pangan harus tersedia dalam jumlah yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi. Nampak adanya kepentingan agribisnis kelas ekonomi menengah atas dan para penguasa namun swasembada pangan bertujuan menjamin masyarakat kecil.

     Stabilitaas merujuk pada kemungkinan bahwa  pada situasi yang sesulit apa pun (misalnya, pada musim paceklik), konsumsi pangan tidak akan jatu di bawah kebutuhan gizi yang dianjurkan. Sementara itu, akses mengacu pada fakta bahwa masih banyak masyarakat yang mengalami kelaparan karena ketiadaan sumber daya untuk memproduksi pangan atau ketidakmampuan untuk membeli pangan sesuai kebutuhan. Jadi, determinan utama dari ketahanan pangan adalah daya beli atau pendapatan memadai untuk memenuhi biaya hidup.

    Swasembada pangan tidak menjamin kebutuhan hidup masyarakat lokal, maka pembangunan daerah setiap kota terus ditingkatkan untuk  menjamin kebutuhan hidup masyarakatnya melalui berbagai cara. Sala- satu cara menjaga kelaparan disuatu tempat pentingnya membangun pangan alternatif. Pentingnya pangan alternatif untuk mengurangi input pangan dari luar. Input luar meningkat, masyarakat setempat berali profesi menjadi ketergantungan hidup/ malas kerja. 

       Melihat dari sisi kualitas dan kuantitas “ pangan input tidak menjamin dengan baik beras RASKIN misalnya pangan pokok masyarakat Indonesia. Sayangnya subsidi impor beras ini, kualitas lebih rendah dan tidak layak dikonsumsi bagi manusia. Kemananan dan ketahanan pangan tidak diperhatikannya. Semoga ketahanan pangan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dalam jumlah, mutu, aman merata dan terjangkau.