Selasa, 20 November 2012

NURANI ANAK NEGERI WEST PAPUA



Oleh : Meky Yeimo  
 Pengorbanan anak negeri Papua, tinggalkan bapa, mama, adik, anak, istri, saudara, keluargaku, cinta, rakyat, kampung halaman dan negerinya. Keluar dari istana yang mega, pergi berjuang melibatkan diri dalam tugas revolusi demi mewujudkan impian rakyat Papua. Sepanjang jalan di arena perjuangan bersama borgol di tangan, dikawal dengan laras dan hantaman senjata. Disertai cucuran air mata darah bercampur keringat, membasahi seluruh tubuh anak negeri sambil membawa aspirasi rakyat Papua. Berjalan maju sambil menangis, masuk di kotak sampah, di pagari tembok tinggi, dindingnya tebal berhias kawat duri, berlapis penjaga.Di sinilah aku di hujani puluhan pukulan, ratusan hinaan, ribuan siksaan dan jutaan pertanyaan. Namun, saya tetap tenang dengan penuh sabar, jujur dan benar sambil menangis.
Tuhan dan umat seluruh dunia tahu, bahwa pembunuhan, penindasan dan segala bentuk kekerasan yang terjadi di Papua, maka suara hati ini bahwa; rakyat Papua harus keluar dari segala penindasan dan penderitaan. Orang Papua harus bisa menikmati hak-haknya sebagai manusia. Bukan menyaksikan hak-haknya di langgar atau ditekang. Inikah yang artinya merdeka sebagai manusia?

Rakyat Papua tersungkur oleh peluru yang menembus anak-anak negari Papua, serentak Papua menjadi perhatian Tuhan dan dunia. Air mata rakyat Papua mengalir seperti sungai, getir rasanya. Peluru selalu meranpas nyawa orang Papua yang kerap kali selalu menjadi pertanyaanku. Mengapa kematian yang diakibatkan peluru ini belum juga berakhir?

Mungkinkah di suatu hari kelak tidak ada lagi anak-anak negari yang mati karena peluru yang kejam? Kamatian anak-anak negeri Papua menegaskan bahwa perjalanan kaum yang dikalakan yang dijiwai oleh darah perjalanan sejarah adalah perjalanan menuju menyatunya ideology menjadi kapitalisme liberal. Semantara sejarah Papua bergerak menuju pengakuan sebagai warga Negara yang bermartabat dengan warga Negara yang lain di dunia.
Sebagai manusia yang merdeka, bukan hanya merdeka dari ketakutan akan peluru yang tiba-tiba meleset dan merampas hidup orang Papua, tetapi rakyat Papua bisa menuntukan nasip sendiri.

Orang Papua bisa menikmati hak-haknya, bukan menyaksikan hak-haknya diambil. Inilah artinya merdeka sebagai manusia, menyaksikan dan merasakan sejarah para korban kita mencium bau darah, tidak ada suka cita kemenangan, tetapi duka cita karena kematian anak-anak negeri Papua yang sangat murah itu.

Tidak ada sorak-sorai, waita, ugaa, etai tari-tarian, yospan, pesak, wisi, bahkan senyumpun tidak. Kepada ibu-ibu, mama-mama Papua selalu tunduk sedih dan air mata selalu mengalir bagaikan meta air jatuh membasahi tanah Papua yang tercinta ini.

Anak-anak negeri Papua ditangkap, ditahan, dihukum, di penjarakan, diikat dengan borgol, ditarik seperti seekor binatang. Penjara pindah penjara, dari kota ke kota, sampai dengan buang di tempat pembuangan atau buang di tempat sampah masyarakat, air mata anak Negeri Papua tak pernah berhenti. Kapan air mata orag Papua berakhir?

Dan mengapa orang Papua selalu berduka cita terus menerus, tidak ada suka cita? Mengapa orang Papua selalu sakit dan sedih, tak pernah tersenyum? Karena yang terjadi di negeri emas ini adalah teman jual teman, istri jual suami, bapak jual anak, marga jual marga, dan suku jual suku.

Hal ini dilakukan hanya untuk mendapatkan sebatang rokok dan sepiring nasi. Maka air mata anak negeri dan alam Papua tak pernah berakhir dan yang ada hanyalah menangis dan menderita.

Anak negari Papua menderita di balik terali besi, mama duduk menangis di kebun sambil menonton orang kuras harta kekayaannya. Bukannya ini sejarah yang tidak pernah di catat, bahwa mereka belum menjadi pelaku aktif yang bagi sejarahnya sendiri? Yah, mereka mengingat kekalahan yang menyesalkan sejarah yang kita kanal hamper selalu berkisah tenang pahlawan, kemenangan, dan peristiwa yang monumental.
Sehingga diabaikan kematian anak-anak negari yang di rekam-pun hanya milik mereka yang agung, tetapi para budak dan serdadu-serdadu yang terluhat hamper tak pernah bahkan tidak pernah sama sekali di sebut namanya, hidup mereka-pun tidak berharga untuk satu huruf-pun dalam kitab sejarah, agaknya untuk menimbang arah sejarah Papua kita tidak perlu mendogak para petinggi negari, bias-bisa malah merasa ngeri, lihatlah peluru sedang mencari nyawa orang Papua, korban berjatuhan terus, darah anak-anak negari mengalir terus-menerus bagaikan sungai yang mengalir siang dan malam.
Para petinggi negeri tidak kasi tanda biru, selalu tanda merah dan hitam saja. Sejarah kita bangun sendiri, kekalahan dan kekalahan, kegetiran yang datang silih berganti akan membuat dahaga kita akan kemanusian yang akan merdeka semakin besar, arus sejarah akan semakin deras dan mungkin tak lagi akan terbendung rasa kala tidak perlu mengemuka. Sebagai dendam tidak ada gunanya, dendam kecuali akan membuat kita semakin terburuk dan sejarah menjadi lebih mengerikan.

Dendam akan membuat tanah menjadi kerajaan kekerasan dalam arena kekerasan. Tak pernah seorang pun tampil sebagai pemenang, sejarah akan bergerak pada ciptaan, tata kehidupan yang berkeadilan, yang mengakui nilai-nilai kehidupan yang mungkin anak-anak bertumbuh, berkembang dan mendorong terciptanya manusia dapat menghayati kemanusian tanpa terancam atau mengancam manusia lain.

Hatiku selalu sedih dan menangis melihat kekejaman militer di Negeri yang saya cintai ini, aku melihat di gunung-gunung, lembah-lembah, tidak ada yang datang menolong, menghibur dan melihatku di dalam kebarahan.
Saya anak negeri Papua mengajak seluruh elemen perjuang Papua merdeka, menyusun kekuatan menuju REFERENDUM secara adil, jangan bilang ko dari Timurka, ko dari Baratka, ko dari Utaraka, ko dari Selatanka, ko dari Gunungka atau ko dari Pantai kita adalah satu yaitu Papua sejarah kita adalah satu dan tuntutan kita adalah Papua Merdeka. Mari kita LAWAN dan Merebut untuk membawah rakyat Papua keluar dari Penderitaan, Penindasan, Penganiayaan dan Pembunuhan secara tidak Manusiawi yang di lakukan oleh Elit-elit/ Pejabat Orang asili Papua bersama TNI/POLRI.

Orang Papua bukan binatang buas yang harus di punah dari diatas Negerinya sendiri ka? Orang Papua tunduk pada penjajah atau Bangkit dan LAWAN. Jadikan orang Papua tuan diatas negerinya sendiri.

 Salam Juang  : Kita harus Mengakiri


Senin, 05 November 2012

Telaah Punah Lima Jenis Lobster (UDI) di Danau Paniai.



Tellah terlihat  di pasar Ibu kota Enarotali Panai, para nelayang lokal menjual lobster yang sebut udang.  Lobster tersebut mereka menjual hasil budidaya atau para nelayang mengambil sendiri di danau Paniai.  Nyatanya mereka memburuh menangkap udang tersebut. 

Apa itu Lobster . Loster air tawar adalah sala – satu genus yang termasuk dalam kelompok udang (Crustacea) air yang secara alami memiliki ukuran tubuh relatif besar dan memiliki daur siklus hidup hanya di lingungan air tawar. 

Berdasarkan penyebaran di dunia ini ada 3 famili lobster air tawar, yakni famili Astacidae,Cambaridae dan Parastacidae. Lobster air tawar Astacidae dan Cambarigdae tersebar di belahan dunia utara, sedangkan Parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, Seperti Australia , Papua,Selandia Baru, dan Papua Nugini.

Telaah di teliti oleh para ilmuan dan kajian ilmiah diketahui bahwa habitat alam lobster air tawar adalah danau rawa, dan kali yang berlokasi di daerah pegunungan. Disamping itu diketahui pula lobster air tawar bersifat endemik  karena terdapat spesifikasi pada spesies lobster air yang di temukan di habitat alam tertentu. 

Habitat alami secara umum,habitat asli lobster air tawar adalah danau, rawa,atau  sungai air tawar yang hanya terletak di kawasan perairan Papua, Papua Nugini dan negara – negara bagian Australia.  Habitat berupa danau, rawa atau sungai yang biasa di tempati dalam melaksanakan siklus hidup lobster air tawar adalah habitat yang memiliki ciri – ciri khusus, seperti tepi relatif dangkal di lengkapi dasar yang terdiri dari campuran lumpur, pasir dan bantuan. Disamping itu, habitat alam yang selalu di tempati lobster air tawar juga harus di lengkapi tumbuhan air atau tumbuhan darat yang memiliki akar atau batang terendam air dan daunnya berada diatas permukaan air. 

Berkaitan dengan kondisi lingkungan habitat alami, beberapa spesies lobster air tawar hidup dengan suhu air minimum 8o C. Meskipun demikian, banyak spesies lobster air tawar yang hidup lingkungan dengan suhu air 26O C – 30o C seperti di daerah di dataran rendah.

Menurut  beberapa jurnal  penelitian terdahulu pada tahun 194an, pengukuran kualitas air yang telah di lakukan menunjukan bahwa di daerah – daerah yang telah ditempati populasi lobster air tawar di Papua seperti  Danau Paniai, Danau Tigi dan sungai Ayamoro di Kabuapten Wamena dll. 

Dalam dunia bisnis dua cara telaah di kembangkan dalam dunia pertanian secara umum. Kedua cara yakni  alami ngambil dari alam dan budidaya. Alami berburu mengambil sendiri  yakni menangkap  di danau. Budidaya adalah memperbanyak  jenis spesies campur tangan dengan manusia. Keduanya ini sumber ekonomi . Tetapi secara alami berburu  berbahaya bagi generasi berikutnya. 

Udang konsumsi di jua di danau Paniai adalah secara alami cara penangkapannya.  Sesuai hasil survai di lapangan masyarakat nelayang lokal menjual spesies udang konsumsi, yakni lobster air tawar maupun cabit merah atau redclaw (Chrerax qudricarinatus).
Lobster air tawar  cabit merah (redclaw) merupakan sala – satu spesies endemik dari kelompok undang masih hidup di alam danau Paniai.  

Secara khusus, ciri – ciri morfologi lobster air tawar capit merah adalah warnah tubuhnya hijau kemerahan dan dengan warna dasar bagian atas capit berupa garis merah tajam, terutama pada induk  jantang telah berumur  lebih dari tuju 7 bulan. Selain itu duri – duri kecil yang terletak diatas seluruh permukaan capit yang duri berwarnah putih diatas permukaan setiap segmen capit, telur berwarna kuning kemerahan, dan memiliki masa pengeraman telur 32 – 35 hari dengan suhu air 20 – 220 C.  Spesies ini masih ada di alam danau Paniai.

Menurut cerita bapak kandung  pada tahun 1950- 1970an danau  Paniai termasuk danau produksi udang  lebih besar. Sekitar 5 macam udang  ada di danau Paniai.Menjelaskan nama – nama lokal, lobster (udang)nya.  Membenarkan cerita ini dalam beberapa hari terahkir mendapatkan data jurnal ilmiah tentang  habitat lobster  perna ada di danau  Paniai di bawah ini :  
Jurnal penelitian  (Holthuis, 1949) bahwa danau Paniai  sumber   habitat lobster terbesar di dunia . Penyebaran udang di danau  Paniai dan nama lokasinya.
No
Jenis
Nama Lokal
Lokasi
1
C.palildus (Holthuis,1949)
Obawo
Danau Paniai
2
C. Murido,(Holthuis,1949)
Murido
Danau Paniai
3
C. Longipes (Holthuis,1949)
Dede
Danau Paniai
4
C. Bosmae (Holthuis,1949)
Bopa
Danau Paniai
5
C. Paniaicus,Holthuis 1949)
Juri
Danau Paniai
6
C. Monthicola (Holthuis 1950)
Udi
Danau Panaia

Sumber : Sabar, 1975).
Apakah ke enam macam lobster ini masih hidup didanau Paniai.  Realitasnya hanya ada nama spesiesnya saja. Satu jenis spesies saja masih hidup secara alami sekarang  di nikmati oleh masyarakat lokalnya. Kabupaten Paniai telah lama terbentuk  dalam bingkai Indonesia yang berkedudukan pemerintahan daerah tingkat II dalam Provinsi tetapi tidak menyelamtkan 5 spesies lobster ini.

Akankah satu jenis spesies yang masih ada ini juga ikut punah. Pemerintahan Paniai bagian dinas pertanian mohon di selamatkan keunikan alam Paniaii ini.

Sayang ,  .........sayang ........ kalian hanya meninggalkan nama spesies saja.  

Sumber : Referensi Jurnal Ilmiah :Habitat Lobster  keunikan Danau Paniai.