Senin, 30 Juni 2014

LP Identifikasi dan Pengendalian Hama terpenting Pada Tanaman Kubis dan Bawang Daun





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.              LATAR BELAKANG
            Urbanisasi penduduk pedesaan ke daerah perkotaan tidak dapat dihindari karena pesatnya pertumbuhan ekonomi di daerah perkotaan. Meningkatnya jumlah penduduk di daerah perkotaan membawa dampak terhadap peningkatan kebutuhan pangan, khususnya sayuran.
            Produksi sayuran Indonesia sampai tahun 2005 mencapai 9 101 987 ton dan tingkat konsumsi pada tahun 2005 sebesar 7 732 634.39 ton. Produksi kangkung Indonesia tahun 2005 adalah 229.99 ton (Direktorat Jendral Hortikultura, 2008). Produksi selada Indonesia tahun 2005 kurang dari 1000 ton produksi kubis dan crucifera lainnya (termasuk caisin dan pakcoi) pada tahun yang sama sebesar 1 290 000 ton (Food Agriculuture Organization, 2007). Komoditas tersebut merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat. Jika dikaitkan dengan ketahanan pangan Indonesia produksi beberapa sayuran tersebut belum dapat memenuhi permintaan dan konsumsi dalam negeri. Peningkatan produktivitas dengan kualitas yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan volume pemasaran bagi produk pertanian khususnya komoditi sayuran sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi sayuran, namun demikian masih belum dapat mengimbangi permintaan pasar. Keadaan ini dimungkinkan antara lain sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk, perbaikan pendapatan dan peningkatan kesadaran gizi masyarakat. Selain itu di kota-kota besar tumbuh permintaan pasar yang menghendaki komoditas sayuran dengan kualitas yang baik dan dengan berbagai jenis yang lebih beragam.
            Berbagai jenis komoditas sayuran diusahakan oleh petani di daerah pinggiran perkotaan dalam luas garapan yang sempit, seperti sawi (caisim), bayam, kangkung, terong, cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, kacang panjang dan sebagainya. Umumnya dalam satu penguasaan lahan, diusahakan beraneka ragam komoditas sayuran dalam petakan yang berbeda, misalnya disamping diusahakan komoditas sayuran sawi hijau (caisim), ditanam juga bayam, kangkung, wortel, kacang tanah dan komoditas sayuran lainnya.

           Masih banyak masyarakat yang membudidayakan tanaman sayuran daun dan tanaman sayuran buah, tetapi kurang memahami dalam mengendalikan serangan hama dan penyakit. Sehingga hasil yang didapat dari produk tanaman hortikultura pun menurun drastis. Karena budidaya tanaman hortikultura tidak pernah lepas dari masalah hama dan penyakit tanaman tersebut. Oleh karena itu untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit, dalam pengendaliannya menggunakan cara yang  aman bagi lingkungan, misalnya pemangkasan, mengurangi kelembaban  tanah, memerhatikan kebersihan tanaman di sekitar, melakukan pemupukan  yang berimbang, memperbaiki sistem drainase, pemilihan benih dan bibit tanaman, menggunakan varietas yang tahan, atau penggunaan musuh alami,  dan sebagai pilihan terakir digunakan pestisida sesuai anjuran dan kondisi  tempat.
Hama dapat diartikan dengan hewan pengganggu yang menyerang  bagian-bagian tanaman yang dibudidayakan, sehingga menyebabkan tanaman tidak  maksimal atau bahkan bisa menyebabkan kematian.

1.2. Tujuan Praktek
            Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk  pengamatan hama menyerang pada beberapa tanaman sayuran daun dan sayuran buah  yaitu  brokoli, dan bawang daun serta pengendalian hama.
1.3.  Kegiatan Praktek
Kegiatan yang dilakukan adalah kunjungan lapangan untuk pengamatan dan mengidentifikasi organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman sayuran daun.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Kol atau Kubis
Kol atau kubis merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae berupa tumbuhan berbatang lunak yang dikenal sejak jaman purbakala (2500-2000 SM) dan merupakan tanaman yang dipuja dan dimuliakan masyarakat Yunani Kuno.
Tanaman kubis (Brassica oleracea) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek dengan tinggi berkisar antara 15 cm - 20 cm atau lebih, bergantung pada tipe dan varietasnya. Tanaman kubis  hanya cocok dibudidayakan di daerah pegunungan berudara sejuk sampai dingin pada ketinggian 1.000-2.000 m dpl.
Menurut Rukmana (1994), berdasarkan klasifikasi, kol/kubis termasuk dalam :
Divisi               :  Spermatophyta
Sub Divisi       :  Angiospermae
Klas                 :  Dicotyledoneae
Famili              :  Cruciferae
Genus              :  Brassica
Spesies             :  Brassica oleracea
Tanaman kubis/kol (Brassica oleracea) tidak terlepas dari hama dan penyakit tanaman. Hama yang diserang yaitu ulat daun kubis Plutella xylostella L, Hellula undalis.(F), Crocidololia binotalis Zell, Phyllotreta vittata (F), Spodoptera litura. (F), Chrysodeixis chalcites (Esp.), Helicoverpa armigera Hubn, dan Myzus persicae (Sulz).
Penyakit kubis yang diserang secara umum yaitu gejala serangan akar pekuk (Plasmodiopora brassicae), becak daun Alternaria kubis (Alternaria brassicae), busuk hitam, gejala serangan busuk basah (Erwinia caratovora), dan gejala penyakit kaki hitam kubis (Phoma lingam). Penyakit-penyakit pada kubis yang telah disebutkan diatas, secara garis besar disebabkan oleh dua patogen yaitu cendawan dan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan ada tiga yaitu akar gada, bercak daun, dan kaki hitam.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman  secara umum dilakukan dengan beberapa cara yaitu melalui teknis,  biologi, kimia. Pengendalian dengan kultur teknis diantaranya: pengobatan dengan air panas. Perawatan benih dengan air panas adalah salah satu cara mengendalikan spora pada kulit biji. Pengendalian penyakit melalui biologi kontrol melalui  jamur actinomycetes, Streptomyces arabicus, menunjukkan efek antijamur pada Alternaria brassicae  dapat menekan pertumbuhan spesies cendawan tersebut. Sedangkan  pengendalian penyakit melalui kimia dengan menggunakan fungisida sepenuhnya menghambat pathogen.

B.     Bawang Daun
Daun bawang merupakan jenis sayuran dari kelompok bawang yang banyak digunakan dalam masakan. Dalam seni masak Indonesia, daun bawang bisa ditemukan misalnya dalam martabak telur, sebagai bagian dari sop, atau sebagai bumbu tabur seperti pada soto.
Daun bawang sebenarnya istilah umum yang dapat terdiri dari spesies yang berbeda. Jenis yang paling umum dijumpai adalah bawang daun (Allium fistulosum). Jenis lainnya adalah A. ascalonicum, yang masih sejenis dengan bawang merah. Kadang-kadang bawang prei juga disebut sebagai daun bawang.
Menurut (Rukmana, 1995) kedudukan tanaman bawang daun dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisio             : Spermathopyta
Sub Divisio     : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Liliales
Famili              : Liliaceae
Genus              : Allium
Spesies            : Allium fustulosum L. (bawan g daun) atau Allium porum  L. (bawang prei).
Tanaman bawang daun juga (Allum fustula L) tidak terlepas dari hama penyakit tanaman. Secara umum hama – hama yang  serang tanaman bawang daun yaitu ulat bawang/ ulat grayak (Spodoptera exequa Hbn), ulat tanah (Agrotis ypsilonHufn), Thrips/kutu loncat (Thrips tabbaci Lind), bercak ungu (Alternaria porri (Ell.) Ciff), busuk daun (Peronospora destructor (Berk.) Caps), busuk leher batang (Bortrytis allii Mun), dan Antraknose (Colectotrichum gleosporiodes Penz.).
Penyakit bawang daun yaitu antraknosa, mati ujung, penyakit diplodia, busuk leher batang daun disebabkan oleh Botrytis allili Munn, dan busuk bakteri yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas alliicolas Starr. Tanaman bawang pun tidak terlepas dari penyakit virus yaitu mosaik, streak, dan kerdil kuning.
Secara umum pengendalian hama  penyakit pada tanaman bawang daun dilakukan dengan beberapa cara yaitu melalui mekanis, hayati, biologi dan secara kimia.  



BAB III
METODOLOGI
1.      Tempat dan Waktu
Praktik dilaksanakan di kebun garapan petani pada petak contoh pertanaman brokoli dan bawang daun di Cisarua Bogor pada bulan Februari 2014.
2.      Bahan dan Alat
Pada praktik kali ini bahan yang digunakan adalah pengamatan hama dan penyakit  tanaman kubis dan bawang daun dan bahan pestisida. Sedangkan alat yang disediakan untuk praktikum ini adalah transportasi, sprayer, skop.
3.      Metode
Metode yang dilakukan adalah pengamatan OPT secara fisik dilihat dengan mata telanjang. Teknik yang digunakan berupa wawancara, diskusi dan studi pustaka.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.   Hama – hama dan Penyakit Penting Pada Tanaman Kubis Serta Pengendaliannya.
A.    Hama penting pada tanaman Kubis
a.    Hama Ulat Daun Kubis  Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae)
Hama ulat daun kubis Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Plutellidae) merupakan salah satu jenis hama utama di pertanaman kubis. Apabila tidak ada tindakan pengendalian, kerusakan kubis oleh hama tersebut dapat meningkat dan hasil panen dapat menurun baik jumlah maupun kualitasnya. Serangan yang timbul kadang-kadang sangat berat sehingga tanaman kubis tidak membentuk krop dan panennya menjadi gagal. Kehilangan hasil kubis yang disebabkan oleh serangan hama dapat mencapai 10-90 persen. Ulat daun kubis P. xylostella bersama dengan ulat jantung kubis Crocidolomia pavonana F. mampu menyebabkan kerusakan berat dan dapat menurunkan produksi kubis sebesar 79,81 persen. Kondisi seperti ini tentu saja merugikan petani sebagai produsen kubis. Oleh karena itu upaya pengendalian hama daun kubis ini sebagai hama utama tanaman kubis perlu dilakukan untuk mencegah dan menekan kerugian akibat serangan hama tersebut. Hama ulat daun kubis dapat dilihat  pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Ulat daun Kubis (Plutella Xylostella L.)
Pengendalian ulat kubis dapat dilakukan dengan cara mekanis, kimiawi dengan insektisida kimia sintetik selektif maupun insektisida nabati, pola bercocok tanam (tumpangsari, rotasi, irigasi, penanaman yang bersih), penggunaan tanaman tahan, pemakaian feromon, pengendalian hayati menggunakan predator, parasitoid (misalnya dengan Diadegma semiclausum Helen, Cotesia plutellae Kurdj., dll.), patogen (misalnya pemakaian bakteri B. thuringiensis, jamur Beauveria bassiana, dsb.) serta aplikasi program PHT.

b.      Crocidololia binotalis Zell.
 Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop kubis atau large cabbage heart caterpillar, termasuk ordo Lepidoptera, farnili Pyralidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Ngengat C. binotalis berwarna kelabu kecoklatan dengan rentangan sayap 20 mm dan panjang 13 mm. Telur diletakkan secara berkelompok pada daun dengan stadium 4 hari. Larvanya berwarna coklat sampai hijau tua. Stadium larva 14 hari. Pupanya berada dalam tanah. Daur hidup 24-32 hari. Larva C. binotalis merusak kubis yang sedang membentuk krop, sehingga daun kubis berlubang-lubang. Kerusakan ringan berakibat menurunnya kualitas kubis sedang kerusakan berat menyebabkan tanaman kubis tidak dapat dipanen.Tanaman inang C. binotalis adalah petsai dan kubis-kubisan. Hama Crocidololia binolatis Zell dapat dilihat gambar  2 dibawah ini.
                                      Gambar 2. Hama Crocidololia binolatis Zell
Pengendalian C. binotalis dapat dilakukan dengan tumpangsari kubis dengan tomat. Konservasi musuh alami penggunaan parasitoid Sturmia incospicuoides Bar., Atrometus sp., Mesochorus so., dan. Chelonus tabonus Sonar. Penggunaan insektisida sintetik apabila ditemukan 3 ekor larva setiap 10 tanaman.
c.       Hellula undalis (F).
Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop bergaris atau striped cabbage heart caterpillar, termasuk ordo Lepidoptera, famili Pyralidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Ngengat H undalis berwarna kelabu dan pada sayap depan terdapat garis-garis pucat serta titik-titik. Larvanya berwarna kuning kecoklatan dengan kepala hitam dan pada badannya terdapat enam garis yang memanjang berwarna coklat. Pupanya di tanah terbungkus kokon, tertutup oleh partikel tanah. Daur hidupnya 23-25 hari. Serangan larva muda seperti serangan yang disebabkan oleh Plutela sp. dan gejala serangan larva tua seperti gejala serangan Crocidolomia sp. Tanaman inang H.undalis adalah Petsai, sawi, lobak, dan, kubis tunas. Ngengat H undalis dapat dilihat di gambar 3 berikut ini.
                                  Gambar 3. Hama hellula Undalis (F).

B.  Penyakit Penting Pada Tanaman Kubis
Penyakit-penyakit pada kubis yang telah disebutkan dibawah, secara garis besar disebabkan oleh dua patogen yaitu cendawan dan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan ada tiga yaitu akar gada, bercak daun, dan kaki hitam, sedangkan penyakit pada kubis oleh patogen bakteri ada dua yaitu busuk hitam dan busuk basak. Masing- masing uraian yaitu penyebab penyakit, gejala penyakit, pengendalian serta dilampirkan dengan gambar penyakit pada tanaman kubis.
a.    Akar gada
Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Akar gada menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman rentan tumbuh pada tanah yang terifeksi. Hal ini disebabkan patogen yang menginfeksi tanah ini tetap menjadi saprofit pada tanah sehingga kubis-kubisan kurang cocok lagi untuk dibudidayakan di tempat tersebut (Agrios, 2005).
Plasmodiophora brassicae yang menyerang kubis ini termasuk dalam kelas plasmodiophoromycetes. Gejala yang khas pada tanaman yang terifeksi Plasmodiophora brassicae adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput-rumputan.
Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena. Gejala pada permukaan atas tanah dapat dilihat dengan menguningnya daun. Layu pada siang hari dan akan segar kembali pada malam hari. Tanaman akan kelihatan kerdil, tanaman muda yang terserang akan dengan cepat mati sedangkan tanaman tua dapat bertahan hidup namun tidak dapat menghasilkan krop yang dapat dipasarkan. Penyakit akar gada dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini.
  Gambar 4. Penyakit Akar Gada (Plasmodiopora brassicae)
Ada beberapa pengendalian dilakukan yaitu dengan menggunakan bibit yang bebas hama dan penyakit. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit.
b.      Bercak Daun Alternaria
Bercak daun alternaria merupakan penyakit yang sering ditemukan pada berbagai jenis tanaman di seluruh dunia diantaranya kubis, tomat, kentang, kacang tanah, tembakau, geranium, apel, bawang, jeruk lemon, dll. Penyebab penyakit Alternaria sp. mempunyai miselium berwarna gelap dan pada jaringan tua memproduksi konidiofor pendek, sederhana, dan tegak yang dapat menopang konidia. Konidia dari dari Alternaria sp. cukup besar gelap, panjang, multiselular, dan mempunyai sekat melintang dan membujur. Konidifor dari Alternaria. brassicae menghasilkan spora aseksual (konidia) dengan panjang rata-rata antara 160-200 μm. Sporulasi terjadi (in vitro) antara suhu 8 sampai 240C dimana spora dewasa dapat terbentuk setelah 14 sampai 24 jam.
Alternaria brassicae dapat mempengaruhi spesies inang pada semua tahap pertumbuhan, termasuk biji. Gejala yang ditimbulkan sering terjadi pada daun yang lebih tua, karena mereka lebih dekat dengan tanah dan lebih mudah terinfeksi sebagai akibat dari percikan hujan atau hujan ditiup angin. Akhir infeksi, atau infeksi daun yang lebih tua, tidak mengurangi karakteristik krop, dan dapat dikontrol melalui penghapusan intensif daun terinfeksi. Serangan pada tanaman di persemaian dapat mengakibatkan damping off atau tanaman kerdil. Bentuk bercak daun sangat beragam ukurannya dari sebesar lubang jarum hingga yang berdiameter 5 cm. Umumnya serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Gejala ini sering disebut dengan browning. Pada kondisi cuaca yang lembab tampak bulu-bulu halus kebiruan di pusat bercak yang bercak tersebut sering terdapat cincin-cincin sepusat. Penyakit daun alternaria dapat dilihat pada gambar 5 berikut ini.
                 Gambar 5. Penyakit Bercak Daun Alternaria Kubis (Alternaria brassicae).
Pengendalian Penyakit menurut Rebecca (2001), pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan perlakuan kultur teknis dan kimia. Pengendalian dengan kultur teknis diantaranya: Pengobatan dengan air panas: Perawatan benih dengan air panas adalah salah satu cara mengendalikan spora pada kulit biji. Tanaman rotasi: Rotasi dengan tanaman bukan kubis dan pemberantasan gulma silangan dapat membantu mengendalikan patogen. Biologi control dengan jamur actinomycetes, Streptomyces arabicus, menunjukkan efek antijamur pada Alternaria brassicae pada laboratorium dan studi lapangan sehingga dapat menekan pertumbuhan spesies cendawan tersebut. Pengendalian dengan cara kimiawi dapat dilakukan engan menggunakan fungisida.
c.       Kaki Hitam
Penyakit kaki hitam disebabkan oleh pathogen Phoma Lingam yang merupakan patogen serius yang dapat menyebabkan penyakit kaki hitam, kanker , dan busuk kering brassicae dan silangan lain. Batang dibusukkan / penyakit penipu disebabkan oleh jamur Phoma lingam ascomycetes.
Gejala yang ditimbulkan penyakit kaki hitam oleh pathogen phoma lingam yaitu Noda pada batang dan daun, bulat telur sampai yg tersebar luas, pada awalnya kuning kehijauan, kemudian kelabu kuning, akhirnya abu-abu, depresi, dengan ungu ke perbatasan hitam. Kanker memanjang pada pangkal batang, mula-mula berwarna coklat muda, kemudian mejadi kehitaman, yang sering dikelilingi oleh batas berwarna ungu. Di bagian tengah luka terdapat titik-titik hitam yang terdiri dari piknidium jamur penyebab penyakit. Kanker dapat meluas sehingga batang bergelang, bagian dalam batang busuk kering berwarna coklat, mula-mula terdapat becak warna pucat dengan batas kurang jelas yang menjadi becak bulat dengan warna kelabu ditengah. Daun-daun yang layu biasanya tetap bergantung pada tanaman, sedangkan daun-daun yang masih segar sering mempunyai tepi berwarna kemerahan. Pada tanaman penghasil benih, penyakit dapat timbul pada polongan (buah), dan biji yang terinfeksi menjadi keriput. Perakaran yang sakit akan rusak sedikit demi sedikit sehingga tanaman menjadi layu dan kemudian mati. Penyakit kaki hitam dapat dilihat pada gambar 6 dibawah ini.
                                          Gambar 6. Penyakit kaki hitam kubis (Phoma lingan).
Teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit kaki hitam yaitu pemencaran penyakit ke daerah yang belum terjangkit harus dicegah, menanam benih yang sehat yang dihasilkan oleh daerah-daerah yang kering, khususnya yang mempunyai cuaca kering pada waktu tanaman membentuk buah. Sanitasi pertanaman, sisa-sisa tanaman, khususnya tanaman sakit, dipendam dalam tanah cukup dalam, agar tidak menjadi sumber infeksi bagi pertanaman yang akan datang atau pertanaman sekitarnya. Tidak membuat persemaian di tanah yang mungkin mengandung penyebab penyakit, di daerah yang sudah terjangkit dan penggunaan fungisida secara efisien.
d.      Busuk Hitam
      Penyakit busuk hitam adalah salah satu penyakit yang paling merusak kubis dan silangan lain. Kubis adalah salah satu silangan paling rentan terhadap busuk hitam. Penyebab penyakit busuk hitam adalah Xanthomonas campestris pv. Campestris. Bakteri ini bersel tunggal, berbentuk batang, 0,7-3,0 x 0,4-0,5 µm, membentuk rantai, berkapsula, tidak berspora, bersifat gram negatif, bergerak dengan satu flagel polar.
Tanaman dapat terserang busuk hitam pada setiap tahap pertumbuhan. Pada pembibitan, infeksi yang pertama kali muncul dengan menghitamkan sepanjang kotiledon. Bibit terserang patogen akan berwarna kuning sampai coklat, layu, dan runtuh. Pada tanaman yang memasuki pertumbuhan vegetatif lanjut akan menunjukkan gejala kerdil, layu, daun yang terinfeksi berbentuk wilayah-V. Wilayah V ini kemudian membesar dan menuju dasar daun, berwarna kuning sampai coklat, dan kering. Gejala ini dapat muncul pada daun, batang, akar, dan berubah menjadi hitam akibat patogen yang berkembang biak. Penyakit busuk hitam dapat dilihat pada gambar 7 berikut ini.

                     Gambar 7. Busuk Hitam Kubis
Menurut Rukmana (1994), pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi serasah dari tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama untuk budidaya di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah. Menutup tanah dengan jerami untuk mengurangi penyakit. Tanaman yang terserang bakteri busuk hitam dicabut dan daun-daun yang terinfeksi dikumpulkan untuk dimusnahkan (Soeroto,1994).

e.       Busuk Basa (Erwinia Caratovara)

    Penyakit busuk lunak ini telah menyebkan kerugian ekonomi yang besar akibat berkurangnya jumlah produksi yang dapat terjual: rendahnya kualitas; dan besarnya biaya pengendalian. Penyebab penyakit Erwinia carotovora merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat gram negatif, umumnya berbentuk rantai, tidak berkapsul dan tidak berspora, dapat bergerak aktif dengan 2-5 flagella. Ukuran selnya 1,5-2,0 x 0,6-0,9 mikron (Permadi dan Sastroosiswojo, 1993).
    Gejala awal yang mucul pada tanaman berupa gejala basah yang kecil dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Warna pada permukaannya menjadi hijau pucat dan mengkerut. Pada jaringan yang terinfeksi akan berwarna buram dan kemudian akan berubah menjadi krem dan berlendir. Jika hal ini terjadi, maka pada permukaan akan tampak cairan berwarna keruh. Perkembangan penyakit hingga tanaman membusuk hanya butuh waktu 3-5 hari. Jika akar krop telah terserang, gejala kemudian dapat muncul pada batang berupa batang yang berair, hitam, dan berkerut menyebabkan tanaman kerdil, layu dan mati.  Penyakit busuk basa (Erwinia caratovara) dapat dilihat pada gambar 8 berikut.
                        Gambar 8. Penyakit Busuk Basah  (Erwinia caratovara)
      Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan. Sanitasi, jarak tanam tidak terlalu rapat. Menghindari terjadinya luka yang tidak perlu dan pengendalian pasca panen.

4.2.             Hama dan Penyakit  Terpenting Pada Tanaman Bawang
A.   Hama terpenting pada tanaman Bawang
1.    Ulat Bawang
Serangga dewasa merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago betina meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berjumlah 50 – 150 butir telur. Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi oleh bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) dengan ukuran sekitar 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S. exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda dan jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan (Gambar 9).
Gambar 9. Telur, Larva dan Imago S.exugua
Lama hidup larva 10 hari. Pupa dibentuk pada permukaan tanah, berwarna coklat terang dengan ukuran 15 – 20 mm. Lama hidup pupa berkisar antara 6 – 7 hari (Fye and Mc Ada 1972). Siklus hidup dari telur sampai imago adalah 3 – 4 minggu. Larva S. exigua mempunyai sifat polifag (pemakan segala). Gejala serangan yang ditimbulkan oleh ulat bawang ditandai oleh adanya lubang-lubang pada daun mulai dari tepi daun permukaan atas atau bawah (Gambar 10).
                      Gambar  10.  Gejala serangan S. Exegua pada tanaman bawang
2.      Ulat Grayak
Ngengat berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya, sedangkan sayap belakang berwarna putih dengan bercak hitam. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 2.000 – 3.000 butir. Telur berwarna putih diletakkan berkelompok dan berbulu halus seperti diselimuti kain laken. Dalam satu kelompok telur biasanya terdapat sekitar 350 butir telur. Larva mempunyai warna yang bervariasi, tetapi mempunyai kalung hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. (Gambar 11). Pupa berwarna coklat gelap terbentuk dalam tanah.

                                                  Gambar 11. Larva S. Litura
3.      Thrips
  Tubuhnya tipis sepanjang ± 1 mm dan dengan sayap berumbai-umbai. Warna tubuh kuning dan berubah menjadi coklat sampai hitam jika sudah dewasa. Telur berwarna kekuningan, lama hidup 4 – 5 hari. Nimpa berwarna putih kekuningan lama hidupnya sekitar 9 hari (Gambar 12). Pupa terbentuk dalam tanah, lama hidup sekitar 9 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 80 telur (Stepen, 2006). Gejala serangan daun berwarna putih keperak-perakan (Gambar 13). Pada serangan hebat, seluruh areal pertanaman berwarna putih dan akhirnya tanaman mati. Serangan hebat terjadi pada suhu udara rata-rata di atas normal dan kelembaban lebih dari 70%. T. tabaci menyerang paling sedikit 25 famili tanaman seperti kacang-kacangan, brokoli, kubis, wortel, kubis bunga,kapas, mentimun, bawang putih, melon, bawang merah, pepaya, nenas, tomat, dan tembakau.
Gambar 12. Nimfa T. Tabaci
Gambar 13. Gejala serangan trips bawang
4.      Lalat Penggorok Daun
Liriomyza sp. menyerang tanaman bawang merah dari umur 15 hari setelah tanam sampai menjelang panen. Kehilangan hasil akibat hama tersebut dapat mencapai 30 – 100%. Tanaman bawang merah yang terserang hama ini daunnya mengering akibat korokan larva sehingga umbi bawang yang dihasilkan berukuran sangat kecil. Pada keadaan serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar. Spesies yang menyerang tanaman bawang merah adalah L. chinensis. L. chinensis berukuran panjang 1,7 – 2,3 mm. Seluruh bagian punggungnya berwarna hitam, telur berwarna putih, bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm. Larva berwarna putih susu atau kekuningan, dan yang sudah berusia lanjut berukuran 3,5 mm (Gambar 14). Pupa berwarna
Gambar 14. Larva, Pupa dan Imago L.chinensis
kuning keemasan hingga cokelat kekuningan, dan berukuran 2,5 mm (Gambar 14). Seekor betina mampu menghasilkan telur sebanyak 50 – 300 butir. Siklus hidup pada tanaman bawang merah sekitar 3 minggu.Gejala daun bawang merah yang terserang, berupa bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok. Pada keadaan serangan berat, hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar (Gambar 15).
Gambar 15. Gejala Serangan L.chinensis pada tanaman bawang merah.
5.      Orong – Orong atau Anjing Tanah
Imago menyerupai cengkerik, mempunyai sepasang kaki depan yang kuat, dan terbang pada malam hari (Gambar 16). Nimfa seperti serangga dewasa, tetapi ukurannya lebih kecil. Sifatnya sangat polifag, memakan akar, umbi, tanaman muda dan serangga kecil seperti kutu daun. Lamanya daur hidup 3 – 4 bulan. Umumnya orong-orong banyak dijumpai menyerang tanaman bawang merah pada penanaman kedua. Hama ini menyerang tanaman yang berumur 1 -2 minggu setelah tanam. Gejala serangan ditandai dengan layunya tanaman, karena akar tanaman rusak.
Gambar 16. Anjing tanah atau Orong – orong (Gryllotalpa africana Pal).
B.     Penyakit Penting pada Tanaman Bawang
1.    Penyakit Trotoar atau bercak ungu (Purple blotch).
Patogen: cendawan Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala : Infeksi awal pada daun menimbulkan bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna putih dengan pusat yang berwarna ungu (kelabu). Jika cuaca lembab, serangan berlanjut dengan cepat, bercak berkembang hingga menyerupai cincin dengan bagian tengah yang berwarna ungu dengan tepi yang kemerahan dikelilingi warna kuning yang dapat meluas ke bagian atas maupun bawah bercak. Ujung daun mengering, sehingga daun patah. Permukaan bercak tersebut akhirnya berwarna coklat kehitaman (Gambar 17). Serangan dapat berlanjut ke umbi, yang menyebabkan umbi membusuk, berwarna kuning lalu merah kecoklatan. Semula umbi membusuk dan berair yang dimulai dari bagian leher, kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering dan berwarna lebih gelap. Umbi tersebut dapat menjadi sumber infeksi untuk tanaman generasi berikutnya jika digunakan sebagai bibit.

                                                 Gambar 17. Penyakit Alternaria porii dan gejala serangannya pada
                                               tanaman bawang merah.

2.      Penyakit Otomatis atau Antraknose (Antacnose)
Patogen : cendawan Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) Gejala penyakit ini disebut penyakit otomatis, karena tanaman yang terinfeksi akan mati dengan cepat, mendadak, dan serentak. Serangan awal ditandai dengan terlihatnya bercak berwarna putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan ke dalam (invaginasi), berlubang dan patah karena terkulai tepat pada bercak tersebut (Gambar 18). Jika infeksi berlanjut, maka terbentuklah koloni konidia yang berwarna merah muda, yang kemudian berubah menjadi coklat muda, coklat tua, dan akhirnya kehitam-hitaman. Dalam kondisi kelembaban udara yang tinggi terutama pada musim penghujan, konidia berkembang dengan cepat membentuk miselia yang tumbuh menjalar dari helaian daun, masuk menembus sampai ke umbi, seterusnya menyebar di permukaan tanah, berwarna putih, dan menginfeksi inang di sekitarnya. Umbi kemudian membusuk, daun mengering dan sebaran serangan yang bersifat sporadis tersebut, pada hamparan tanaman akan terlihat gejala botak-botak di beberapa tempat.
                Gambar 18. Gejala serangan penyakit Colletotrichum gloeosporioides
                                                pada tanaman bawang merah.
3.      Penyakit embun bulu atau tepung palsu (Downy mildew)
Patogen : cendawan Peronospora destructor (Berk.) Casp. Gejala : Pada kondisi yang lembab, berkabut atau curah hujan tinggi, cendawan akan membentuk masa spora yang sangat banyak, yang terlihat sebagai bulu-bulu halus berwarna ungu (violet) yang menutupi daun bagian luar dan batang (umbi) (Gambar 19). Gejala kelihatan lebih jelas jika daun basah terkena embun. Gejala akibat infeksi cendawan ini dapat bersifat sistemik dan lokal. Jika infeksi terjadi pada awal pertumbuhan tanaman, dan tanaman mampu bertahan hidup, maka pertumbuhan tanaman terhambat dan daun berwarna hijau pucat. Bercak infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah hingga mencapai umbi lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan, Akibatnya, umbi menjadi berwarna coklat. Serangan lanjut akan mengakibatkan umbi membusuk, tetapi lapisan luarnya mengering dan berkerut, daun layu dan mengering, sering dijumpai anyaman miselia yang berwarna hitam. Gejala lokal biasanya merupakan akibat infeksi sekunder, yang mengakibatkan bercak pada daun yang berwarna pucat dan berbentuk lonjong, yang mampu menimbulkan gejala sistemik seperti tersebut di atas.


                             Gambar 19. Gejala Serangan Embun Bulu pada tanaman bawang merah
4.      Penyakit Layu Fusarium (Twisting Disease)
Organisme : cendawan Fusarium oxysporum (Hanz.). Gejala : Sasaran serangan adalah bagian dasar umbi lapis. Akibatnya pertumbuhan akar maupun umbi terganggu. Gejala visual adalah daun yang menguning dan cenderung terpelintir (terputar). Tanaman sangat mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu bahkan membusuk. Pada dasar umbi terlihat cendawan yang berwarna keputih-putihan, sedangkan jika umbi lapis dipotong membujur terlihat adanya pembusukan, yang berawal dari dasar umbi meluas ke atas maupun ke samping. Serangan lanjut akan mengakibatkan tanaman mati, yang dimulai dari ujung daun dan dengan cepat menjalar ke bagian bawahnya (Gambar 20).

                          Gambar 20. Gejala serangan moler pada tanaman bawang merah
5.      Penyakit Bercak Daun Serkospora (Cerkospora leaf spot)
Organisme : cendawan Cercospoera duddiae (Walles). Gejala : Bercak klorosis kebanyakan terkumpul pada ujung daun dan sering tampak terpisah dengan yang menginfeksi pangkal daun, sehingga gejala visualnya terlihat daun tampak belang-belang. Bercak klorosis yang berbentuk bulat tersebut berwarna kuning pucat, bergaris tengah sekitar 3-5 mm. Serangan lebih lanjut menyebabkan pusat bercak berwarna coklat karena jaringannya mati. Di bagian tersebut terdapat bintik-bintik yang sebenarnya terdiri atas berkas-berkas konidiofora yang mengandung konidia,yang tampak jelas jika cuaca lembab.




C.    Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Bawang

              Pengendalian OPT dilakukan dengan sistem PHT, melalui kegiatan pemantauan dan pengamatan, pengambilan keputusan, dan tindakan pengendalian dengan memperhatikan keamanan bagi manusia serta lingkungan hidup secara berkesinambungan.
            Pemantauan dan pengamatan dilakukan terhadap perkembangan OPT dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Pengambikan keputusan dilakukan berdasarkan hasil analisis data pemantauan dan pengamatan. Keputusan dapat berupa : diteruskannya pemantauan dan pengamatan, atau tindakan pengendalian. Pemantauan dan pengamatan dilanjutkan jika populasi dan atau tingkat serangan OPT tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Pengendalian dilakukan jika populasi dan atau tingkat serangan OPT dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis.
Teknik pengendalian tanaman bawang merah dilakukan yaitu melalui pemanfaatan musuh alamai, pengendalian secara teknis, pengendalian secara mekanik, Pengendalian OPT tidak terlepas dari teknik pembudidayaan tanaman bawang merah yang baik, dan pengendalian secara kimiawi. Pengendalian dilakukan dengan mekanik dengan cara mengumpulkan telur, larva,dan  imago dengan tangan manusia lalu memusnahkannya.

















BAB IV .
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Gangguan hama dan penyakit pada tumbuhan dapat dialami oleh berbagai sistem organ pada tumbuhan. Gangguan ini dapat disebabkan karena kelainan genetis, kondisi lingkungan yang tidak sesuai, atau karena serangan hama dan penyakit. Gangguan hama dan penyakit dalam skala besar pada tanaman budidaya dapat mengganggu persediaan bahan pangan bagi manusia
Hama adalah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia. Hama–hama pada tanaman brokoli yakni ulat daun kubis, Crocidololia binotalis Zell, dan Hellula undalis (F). Sedangkan hama–hama yang menyerang pada tanaman bawang yaitu  ulat bawang, ulat grayak, Thrips, lalat penggorok daun, dan orong- orong atau anjing tanah.
Pengendalian hama pada tanaman kubis dan bawang dilakukan dengan beberapa teknik yakni pengendalian melalui mekanis, pola tanam, pengendalian melalui biologi, hayati dan pengendalian melalui kimia bila diperlukannya.
Patogen utama penyebab penyakit pada tanaman kubis berasal dari cendawan setelah itu bakteri. Penyakit ini akan menyebar dan berkembang dengan baik pada saat musim hujan dimana kelembaban cukup tinggi dan pada saat suhu rendah. Sanitasi dan rotasi tanaman sangat penting sebagai pengendalian secara kultur teknis untuk menghindari tersebarnya penyakit ini kecuali pada penyakit akar gada. Hal ini disebabkan karena spora pada akar gada dapat bertahan lama pada tanah.
Secara umum, patogen dapat menyerang dapat menyerang pada berbagai tingkat tanaman. Penyakit yang menyebabkan kerugian terbesar pada saat pascapanen adalah busuk lunak oleh bakteri Erwinia carotovora. Untuk mencegah tersebarnya penyakit ini perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi luka pada krop kubis.
Penyakit pada tanaman bawang penyakit trotoar atau bercak ungu (Purple blotch), penyakit otomatis atau antraknose (Antacnose), penyakit embun bulu atau tepung palsu (Downy mildew), penyakit layu fusarium (Twisting Disease), dan penyakit bercak daun serkospora (Cerkospora leaf spot).Pengendalian dilakuan melalui bebera cara yakni pengamatan, mekanik, sanitasi dan melalui  kimia jika dibutuhkannya.

Daftar Pustaka