Minggu, 10 Februari 2013

Kisah sebuah Profil see perempuan dalam facebook Hampir Menewaskan Nyawaku.



Kisah sebuah Profil see perempuan dalam facebook Hampir Menewaskan Nyawaku.
Tiga bulan lalu, Seorang berfoto cewe meminta pertemanan kepada saya. Saya pun mengkonfirmasinya. Melihat identitas pekerjaannya tidak jelas pekerjaannya begitu pula tempat asalnya. Swasta apa ........ Saat itu belum di menjelaskannya.

Semua identitas dia, di ceritakan melalui pesang singkat obrolan. Baik tempat asal kelahiran, pekerjaan dan negaranya. Mala melalui pesang singkat obrolan dia memberikan informasih lebih lengkapnya. Waktu itu pekerjaan dia bekerja di Swasta. Swasta apa belum jelas………….?.

Seorang Ibu asal Probolinggo Jawa Timur ini lebih mendekatkan hubungan diri dengan saya melalui jaringan facebook. Dia lebih akrab, sapa dengan saya  semacam adik berkakak. Setiap kali dia onlain tanpa terkecuali memaksa membuka diri percakapan pesan obrolan. Awal mengirimkan pesan setiap kali onlain adalah si Ibu asal probolinggo ini.
Dalam percakapan dia lebih menceritakan demokrasi nasionalisme. Lalu saya lebih menekankan pada pelanggaran HAM Indonesia . Ibu itu lebih suka cerita masalah sosial dan politik.
Pesan obrolan saat moment tertentu yakni ketika saya menuliskan status menantang Negara Indonesia, se ibu memulai cheting obrolan dengan bahasa halus sederhana untuk membunu perasaanku. Dengan kata – kata dek’ kita ini satu negara Indonesia, maka jangan posting terlalu lewat batas ya.
Saat itu pula se ibu memberikan nomor hp kepada saya melalui pesan obrolan. Hari itu pun saya tidak miskol, menelpon  karena ada perasangka buruk dengan orang tersebut.
Satu minggu kemudian saya menelpon ke Ibu tersebut. Nomor telpon diberikan oleh ibu tersebut masih aktif . Telponnya diterima, seteleh menerima telpon dengan kata pertama hallo ini dengan siapa, terdengar suara seorang laki - laki, sya mengatakan ini bukannya ibu Ririn. Tidak saya laki - laki katanya. Ririn itu saya tidak mengenalnya.Sya kasih matiin handphoneku.
Saya masih penasaran dengan nomornya. Sekitar jam 17.00 saya menelpon kembali yang kedua  kali, Penerima handphone adalah seorang perempuan. Katanya ini dengan adik geitogo gobai, menjawab iya benar, lanjutan ini saya Kakak ririn.
Lalu tadi pagi saya menelpon penerima telponku seorang laki - laki. Oh iya dia suamiku. Lanjut dia mengatakan "kalau adik menelpon kasih infokan dulu lewat facebook.

Dengan perkataan itu saya suda tahu siapa dia sebenarnya. Dia sala seorang Aparat yang mencari dan mengejar saya. Dari situlah aku menggantikan nomor handphone baru.
Semuanya telah di ketahui setelah saya dapat tembakan peluruh oleh seorang pekerja swasta fotografer, pencetak pamplet. Pelaku penembak adalah seorang laki - laki berasal dari Probolinggo Jawa Timur. Nama lengkap dia : Arief Budiono. Saat ini dia tinggal di Bogor.
Siapa yang memberikan informasi kepada se pelaku penembak sampai dia bisa mengetahui akun facebook saya. Sampai dia mengejarku sampai aku di tembak. Dia mengetahui tempat tinggal saya. Semuanya pekerjaan Intelkam.

Sesuai cerita diatas menghubungkan ada dua pembuktian bahwa para pelaku penembak pada diri saya. Kedua pembuktian tersebut yakni pekerjaan dia dan asal daerah dia. Membuktikan bahwa dia sala - satu aparat yang mengejar menewaskan nyawa saya tanpa alasan tidak jelas.
Saudara Arief budiono yang mengaku Ibu Ririn selamat menikmati di dalam sel. Di dalam tahanan anda dapat berpkir menjala manusia dari pada pengkianat manusia. Ataukah ini sebuah scenario pihak keamanan dan hukuman di berikan keleluasaan. Kita ikuti langka – langka selanjutnya.
Sya hanya memimpin aksi Kemanusiaan, anda melakukan aksi neraka kebinasaan, Tuhan Allah bagi bangsa Papua tidak membiarkan semua perjuangan kemanusiaan.